Connect with us

Pendidikan

Kubus Megah Impian

Oleh HANAN FAKHIRA SA’DIYYAH

CERPEN INSPIRATIF

BAGIAN 1

—————————————

Gemercik air terdengar, Air putih pekat diaduknya diatas panci. Asap api membumbung tinggi, membuat hangatnya suasana di tengah dinginnya kegelapan. Cahaya remang dari lampu minyak tersebut. Di kota hiu dan buaya pada tahun 2018, seorang pria tua bernama Karem dengan segala keterbatasannya meratapi tekad kuatnya. Tak terasa susu putih tersebut telah mendidih. Di tuangnya dalam plastik dan diikatnya satu persatu dengan tangan gemetarnya. Padam api dari angin tiupan mulut, Susu putih hangat telah siap dijualnya.

Dalam sunyinya malam, pukul 03:00 am Pak Karem telah bangun. Dingin air wudhu menusuk tubuh. Sujud khusyu’ diantara syahdunya udara, bermunajat kepada Allah dengan segala ampunan dan permohonan. Suara sayup-sayup adzan  berkumandang, dilanjut sholat subuh dengan khidmat.

Pagi – pagi sekali Pak karem sudah bersiap untuk berjualan. Susu hangat yang sudah dipersiapkan dari semalam disimpan dalam panci gerobak kelilingnya agar terjaga  kehangatannya. Pak karem berkeliling menyusuri hampir seluruh tempat yang ada di kotanya, sambil berteriak “Susu murniii, susu murni hangattt, susu hangattt”.  Sudah menunjukan pukul 17:30 am susu jualananya belum juga laku terjual. Mungkin, susu didalam panci sudah tak hangat lagi. Akhirnya, pria tua tersebut memutuskan untuk kembali pada rumah kayunya.

Pak Karem tinggal seorang diri dalam rumah, istrinya sudah lama sekali meninggal dikarenakan sakit kanker paru – paru yang dideritanya. Pak Karem memiliki 1 anak, Namun sayangnya, anaknya sudah merantau jauh dan memiliki keluarga sendiri. Ia menjeguk Pak Karem, hanya 2 kali setahun saat hari raya Idhul Fitri dan Idhul Adha.

Sesampainya di rumah, ia membereskan barang – barang jualan dan bersih bersih diri. Dengan koko putih lusuh itu, ia berjalan perlahan menuju tempat kesejukan hati. Sambil menunggu adzan magrib, pak Karem membaca Qur’an dengan lantunan merdu. Pulang dari masjid ia makan malam hanya dengan ikan asin yang beli dipasar kemarin. Dilanjut membaca sebuah buku yang berjudul ‘100 Kemegahan Makkah dan Madinah’.

Seperti biasa, malam hari Pak Karem menghangatkan susu jualanannya. Sebelum tidur, ia mengambil wudhu dan menimbangi celengannya. Walaupun hari ini tidak berpenghasilan apa apa, ia tetap bersyukur atas ketetapan Allah, ia yakin atas kuasa- Nya.

Pada pagi ini ia berjualan keliling kembali. Di tengah sebuah komplek, ia melihat rumah yang dipenuhi orang – orang. Pak Karem mencoba mendekati untuk menawarkan jualanannya. “Assalamualaikummm” di ucapnya, semua orang disana hanya diam tidak menjawab salam dan terlihat heran sambil memandangi Pak Karem sesaat lalu menghiraukannya kembali.

Satu orang lelaki mendekati pak Karem, ia bertanya “Bapak, ada keperluan apa ya kesini?”

Pak Karem berkata dengan lembut, “Ini saya berjualan susu murni hangat. Cuman 10 rb doang pak!”

Dijawabnya “Boleh saya liat susunya pak?” diberikan susu tersebut oleh Pak Karem. Dipandangi susu putih dalam plastik tersebut, lalu dia berbalik badan sambil membawa susu putih itu dan dibuka menggunakan giginya, ia berucap “Terimakasih ya pak!” sontak Pak Karem kaget karena susunya tidak dibayar.

Tiba- tiba lelaki tersebut tertawa sangat keras di teras rumahnya, berkata “Susu apaan ini tidak ada rasanya, HAMBAR! HAHAHAHA” hingga dibuang dalam tempat sampah. Serempak orang-orang disana ikut tertawa juga “HAHAHAHAHA”. Pak Karem pergi menghiraukan sekelompok orang tersebut walaupun hatinya teriris sangat tajam.

Pak Karem melanjutkan berjualan susu mengelilingi tiap – tiap jalan, tiap rumah dan juga tiap komplek. Dia berteriak dengan suara rintihnya.

“Susuuuu, susu murniii, susu murninyaaa”.

“Paaaaaakkk, susunyaaa belii” Suara teriakan seorang perempuan dari salah satu rumah.

“Baik bu, ini susu murninya. Jadi 50 ribu ya bu”.

Ini menjadi pendapatan pertama Pak Karem, selama perjalan berjualan ia tak henti hentinya mengucapkan syukur dan tasbih atas pendapatan hari ini walaupun tak seberapa. Tiba di sebuah taman olahraga, pukul 08.30 am masi waktu yang pas untuk berjualan susu hangat. Ia mencoba nge-tem diantara jajaran tukang dagang.

Tak lama dari itu, 3 orang preman berperawakan mengerikan mendatangi Pak Karem. Tiba – tiba 3 orang preman tersebut mendorong gerobak susu milik pak Karem hingga isi susunya tumpah berserakan di jalanan aspal. Sontak semua tatapan mata tertuju pada pak Karem.

Preman itu berkata, “SEJAK KAPAN KAU DISINI!!”

“Kau belum bayar iuaran kann, seenaknya saja kau disini!!”

Pak Karem berkata dengan suara lembutnya, “Maaf pak, saya tidak tahu jika tempat ini berbayar”

“Tidak tahu, tidak tahu. Cepat kau bayar iuannya!”

“CEPATTTT!!”

Pak Karem memberikan uang yang baru saja didapatkannya dengan sedikit berberat hati. Preman itu menggambilnya dengan keras, hingga tangan pak Karem tergores oleh kuku Panjang preman tersebut. Setelah menggambil uang, preman tersebut langsung pergi begitu saja. Mau bagaimanapun walaupun sudah dibayar tetap saja ia tidak bisa berjualan kembali, dikarenakan susu yang ia jual sudah bertumpah ruah dijalan.

Sambil menahan tangis di dada, pak Karem mebersihkan barang barang yang berserakan dan gerobak yang terjatuh. Terpaksa pukul 08.00 am, ia sudah kembali ke rumah dengan tangan kosong. Sesampainya di rumah ia mengobati goresan luka di tanganya dan mandi untuk menenangkan hati.   Setelah itu beristirahat sambil melanjutkan membaca buku ‘100 Kemegahan Makkah dan Madinah’, tak kuat mata ini menahan akhirnya bak air mata tersebut bertumpah ruah. Ia berucap dalam hatinya “apakah impiannya ini masi bisa tercapai?”

Walaupun pagi tadi pak Karem sudah rugi besar, malam ini ia tetap mempersiapkan jualannya untuk esok hari. Tak pantang menyerah pak Karem mengejar impiannya. Ia juga terpaksa sedikit mengambil uang tabungannya untuk modal berjualan susu lagi.

Seperti biasa pak Karem memulai hari dengan berucap “Bismillah” semoga hari ini mendapatkan penghasilan yang lebih baik lagi. Tiba di depan sebuah Gedung kantor ia melihat banyak sekali karyawan yang berangkat kerja, pak Karem mencoba berjualan di sekitar kantor siapa tau karyawan – karyawan ini membutuhkan stamina lebih.

“Pak, pak jualan apa?” ucap seorang karyawan

“Susu murni hangat pak, monggo pak 10 rb aja”

“Boleh deh pak dua”

Seorang karyawan tersebut meminum susu murni hangat disebelah gerobak milik pak Karem sambil mengobrol – obrol ringan hingga menceritakan impian pak Karem. Karyawan tersebut mengenalkan dirinya bernama Hamzah.

Tiba – tiba hamzah berucap “Waaah, susunya enak sekali looh pak. Orang yang bilang susunya gak enak gila kali ya. Tubuh saya jadi seger kembali .”

“ANWAAAR, WOY Sini beli susu bapaknya enak coy” Hamzah meneriaki temannyan yang sedang lewat berjalan.

Anwar menghampiri dan membeli satu porsi susu hangatnya. “Iya yo susu seger menghangatkkan tubuh.”

Tiba – tiba banyak sekali karyawan yang menghampiri dan membeli susu pak Karem. Mungkin dikarenakan terlihat ramai gerobak Pak Karem dan banyak karyawan yang   bilang susunya enak hingga menyebar ke seluruh kantor.

“Pak, susunya masi ada?” seorang karyawan perempuan menghampiri.

“Waduuuh, maaf mba susu nya sudah habis tadi di beli oleh karyawan karyawan kantor. Maaf ya mba”

“Owalaahh yowes pak, tak apa – apa.”

Alhamdulillahhh, hari ini pak Karem bersyukur sekali susu yang ia jual telah habis. Ia ingin berucap terimakasih banyak kepada dua karyawan tadi tetapi tanpa ia sadari saking focus melayani pelanggan, dua karyawan tersebut  telah pergi menghilang. Yoweslah, Pak Karem pergi meninggalkan kantor dan besok – besok akan kesini lagi, jika bertemu 2 karyawan tadi dia akan berterimakasih banyak.

Malam ini Pak Karem bersyukur sekali, ia dapat mengisi celenganya tersebut. Penghasilan hari ini lumayan, sehabis magrib hingga isya ia menghabiskan waktunya bersama sang pemilik segala-Nya dengan berdzikir dan membaca Qur’an.

BERSAMBUNG………

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four − one =