Connect with us

Majelis Taqorrub

Perlawanan Terhadap Dakwah #3

Sri Rahayu

Pertarungan antara kebenaran dan kebatilan akan terus terjadi sepanjang masa. Hingga datang hari kiamat. Semua peristiwapun senantiasa berulang walau dengan situasi, setting dan pelaku berbeda. Inilah panggung sandiwara. Di panggung inilah setiap anak manusia mengambil peran. Peran antagonis penentang kebenaran atau protagonis pembela kebenaran.

Demikian pula para pembesar Quraisy. Mereka konsisten dan setia menjadi penyeru kebatilan. Menjadi penjaga kejahiliyahan. Merasa senang hidup dalam pekatnya malam, berselimut kezaliman.

Setelah propaganda tak mampu menggagalkan dakwah yang diemban kutlah Rasul, mereka terus berinovasi. Merancang strategi jitu menentang dakwah. Hingga masyarakat Mekah tetap dalam rengkuhannya. Jumud dan beku.

Himpitan, siksaan, fitnah propaganda membuat kehidupan keras di Mekah kian panas membara. Kerasnya benturan kian menghimpit dan menyesakkan dada dada. Islam hanya beredar pada 40 orang saja. Ancaman, siksaan dan fitnah propaganda terus mereka hembus-hembuskan. Keempat puluh sahabat ini tetap setia dalam ikatan aqidah / ideologi Islam.

Dalam kondisi ini, sebagian kaum muslimin melakukan hijrah ke Habsyah. Sebuah negeri nun jauh disana, memiliki pemimpin yang adil dan bijaksana. Yang mampu mengayomi siapa saja yang membutuhkan uluran pertolongannya. Raja adil dan bijaksana akan menerima siapa saja.

Mendengar kaum muslimin hijrah, kafir Quraisy tak tinggal diam. Naluri jahatnya terbakar untuk menggagalkannya. Dua utusan kafir Quraisy melakukan berbagai cara, agar kaum muslimin yang hijrah tidak di terima dan diusir kembali ke Mekah.

Mereka adalah ‘Amru bin ‘Ash dan ‘Abdullah bin Rabi’ah. Keduanya tiba di Habsyah dan mempersembahkan hadiah untuk komandan pasukan Najasyi agar membantu kaum muslimin jangan diterima dan kembali ke Mekah. Mereka diterima Raja Najasy di balairung istana. Mereka berkata, “Wahai Paduka Raja, anak-anak bodoh dari kalangan kami telah melarikan diri dan berlindung di negeri Paduka. Mereka adalah kaum pemecah belah agama kaum mereka sendiri. Mereka tidak akan masuk ke dalam agama Paduka Raja. Mereka datang dengan membawa agama yang dibuat-buat. Kami tidak mengetahuinya sebagaimana paduka. Orang-orang mulia dari kaum mereka, bapak-bapak mereka, paman-paman mereka dan keluarga-keluarga mereka telah mengutus kami berdua menghadap paduka, agar paduka mengembalikan mereka kepada kaumnya. Kaum mereka lebih tinggi dan lebih mengetahui kekurangan-kekurangan mereka.”

Dua utusan itu dengan gaya diplomasi luar biasa berusaha menghasut Raja Najasy agar menolak dan mengembalikan ke negeri asalnya.

Raja mendengarkan dan menyimak penjelasan keduanya dengan seksama. Kata demi kata utusan Quraisy membuat Raja berfikir dan mengambil langkah. Langkah apakah yang diambil Raja Najasy? Percayakah Raja dengan hasutan utusan tersebut? Dan bagaimana nasib kaum muslimin yang sudah jauh-jauh sampai di negeri tujuan?

Saksikan eh..tunggu sarapankata esok pagi.☺✊

12/04/2019

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − 15 =