Connect with us

Galeri Foto

Adu Domba, Cara Imperialis

Cara Imperialis Hancurkan Islam

Photo: vebma.com

Setelah runtuhnya ideologi komunisme internasional, kalangan elite politik negara-negara Barat dan para pengikut mereka di negeri-negeri Islam tampak meyakini tesis Samuel Huntington (1996) yang menyatakan bahwa era berikutnya yang harus dihadapi Barat adalah era perbenturan budaya dengan Timur. Kekuatan Timur yang sangat ditakuti adalah Islam. Ini tampak jelas dalam implementasi kebijakan politik dan ekonomi oleh para elite politik, termasuk di negeri muslim seperti Indonesia.

Implementasi demikian dapat dilihat dalam bentuk upaya melemahkan segala bentuk kekuatan yang mungkin muncul dari negara atau ideologi Islam. Fenomena politik dan ekonomi di Indonesia akhir-akhir ini —seperti tekanan IMF, peremehan makna jihad, penangan kasus-kasus kezhaliman yang menimpa kaum muslimin Tanjung Priok, Maluku, Lampung, dan Aceh yang tak kunjung selesai, tekanan terhadap isu negara Islam, dan benturan antar elite politik muslim— merupakan bukti.

Upaya untuk menekan munculnya Islam ideologis atau untuk melemahkan kekuatannya pun terus-menerus dilakukan. Dengan demikian tidaklah mengherankan apa yang menjadi kebijakan Amerika dan NATO menekan Irak dan terus berada di belakang kasus Kurdi untuk melepaskan diri dari Irak. Di sana dibenturkan antara muslim Kurdi dengan muslim non Kurdi. Demikian pula di Iran. Dalam kasus pemilu yang baru lalu, dipertentangkan antara kelompok muslim yang disebut konservatif dengan kelompok muslim modernis yang sangat pro Barat dibawah pimpinan Khattami. Di Indonesia hal serupa terjadi. Kaum muslimin yang berjuang untuk menegakkan hukum Islam dihadapi oleh kaum muslimin yang hanya mengambil Islam “substansinya” saja, kelompok muslim tradisional dibenturkan dengan mereka yang disebut modernis.

Sayang, masih banyak kaum muslimin —sadar atau tidak— mau diadu domba dengan sesamanya hanya lantaran membela pemimpin yang berasal dari kelompoknya atau semata untuk membela partainya. Tanpa lagi memandang apakah pembelannya tersebut memang sesuai dengan ajaran Islam sehingga layak dan benar dilakukan ataukah tidak. Akhirnya, umat Islam dengan mudah diadu domba, dibayar, dan diprovokasi sehingga seolah yang bertarung adalah Islam dengan Islam. Kesatuan umat, persaudaraan, ghirah, kesetiakawanan, solidaritas, dan penghargaan pada nilai Islam nyaris hilang.

Melihat fenomena demikian, pendapat Ziauddin Sardar (1999) ada benarnya. Umat kita saat ini, menurutnya, adalah hasil gemblengan pemimpin yang masih mewarisi budaya kolonial yang terus menerapkan politik adu domba baik halus maupun kasar. Pemimpin di dunia Islam sekarang ini hanya komparador Barat. Hegemoni politik Barat terus-menerus menguasai pemimpin ini dan menerapkan standar ganda serta adu domba umat untuk tetap menguasai umat Islam yang memang berpotensi menjadi rival peradaban Barat. Bahkan dengan tegas Syaikh Taqiyyuddin An Nabhani dalam buku At Takattul Hizbiy (1953) menyatakan bahwa musuh umat sebenarnya adalah imperialis Barat. Sedangkan, para penguasa kaum muslimin, para cendekiawan yang terbaratkan, dan kalangan zhallamiyyin yang membebek kepada ideologi mereka hanyalah merupakan pion-pion imperialis Barat yang sengaja dipasang untuk menghadang perjuangan menegakkan hukum Islam.

Jelaslah, upaya membenturkan antar umat hanyalah untuk menghambat lajunya kemenangan Islam dan melanggengkan cengkraman ideologi kapitalisme pimpinan Amerika.

Persoalan tadi mengingatkan kaum muslimin pada sabda Nabi SAW empat belas abad yang lalu :

Sungguh aku meminta kepada Rabb-ku bagi umatku agar umatku itu tidak binasa karena wabah kelaparan dan musuh selain dari kalangan mereka sendiri tidak dapat menguasai mereka hingga masyarakat mereka terjaga. Dan sungguh Rabb-ku berfirman : Wahai Muhammad, sesungguhnya bila Aku telah menetapkan suatu putusan maka putusan itu tidak dapat ditolak. Sungguh Aku telah memberimu bagi umatmu bahwa mereka tidak dibinasakan oleh wabah kelaparan dan musuh selain dari kalangan mereka sendiri tidak dapat menguasai mereka hingga masyarakat mereka terjaga sekalipun dikepung dari berbagai penjuru, hingga mereka saling menghancurkan satu sama lain dan saling menawan satu sama lain.” (HR. Muslim)

Hadits ini dengan jelas menyatakan bahwa umat Islam tidak akan hancur luluh lantaran dikepung bangsa-bangsa di dunia yang bersekutu melawan umat Islam. Kecuali bila mereka mendorong sebagian putra-putra umat ini melawan sesamanya. Umat Islam akan hancur lewat politik imperialis : adu domba !

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − one =