Connect with us

Pendidikan

Andai Bisyaroh Nabi Dianggap Basi

Oleh Sigit Nur Setiyawan

 

Bisyaroh adalah kabar dari Rosulullah akan datangnya suatu peristiwa dimasa yang akan datang. Bisyaroh adalah oase ditengah panasnya perjuangan dalam meneggakan Islam. Mengabaikan bisyaroh pasti menjadi orang orang yang berguguran dalam perjuangan.

Bisyaroh adalah pelipur lara bagi ummat yang sedang memikul beratnya beban perjuangan. Tidakkah kita ingat salah satu penggalan kisah pada perang Khandaq? Masa dimana sekitar 3000 kaum muslimin bekerja eksta keras untuk membuat parit yang membentang menutup pintu masuk menuju Madinah.

Pada bagian tertentu para sahabat menemukan batu yang besar yang tidak bisa dipecahkan dan tidak bisa pula digeser posisinya. Akhirnya kejadian tersebut dilaporkan kepada Rosulullah. Rasûlullâh mulai memukul batu tersebut. Beliau memulainya dengan membaca, “Bismillah.” Lalu memukul dan berhasil menghancurkan sepertiganya dan beliu n mengucapkan, “Allâhu akbar ! aku telah di beri kunci-kunci Syam. Demi Allâh, sekarang saya melihat istana yang merah.” Beliau melanjutkan dengan pukulan kedua. Kali ini, , beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berhasil menghancurkan sepertiga berikutnya dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, “Allâhu akbar ! aku telah di beri kunci-kunci Madain. Demi Allâh ! Saya melihat istananya yang putih.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan dengan pukulan ketiga dan akhirnya batu yang tersisa berhasil dipecahkan. Setelah pukulan ketiga, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, “Allâhu akbar ! aku telah di beri kunci-kunci Yaman. Demi Allâh aku melihat pintu-pintu Shan’a dari tempatku ini.

Peristiwa tersebut disaksikan oleh sejumlah besar sahabat. Dan bisyaroh penaklukan tersebut menjadi penawar dahaga dan pelipur lara. Disaat kaum muslimin “tidak yakin” akan mampu bertahan dari serbuan pasukan gabungan, Rosulullah menjanjikan penaklukan penaklukan kerajaan kerajaan besar disekitar Jazirah Arab. Artinya kaum muslimin pasti menang menghadapi pasukan gabungan.

Bisyaroh sangat bermakna untuk membangkitkan kekuatan kaum muslimin. Bayangkan jika para Sahabat menganggap bisyaroh Rosulullah sebagai sesuatu yang “Basi”, tidak bermutu atau isapan jempol saja. Tentunya jangankan melawan Persia? Menghadapi perang esok hari saja belum tentu selamat. Itulah hakikat dari makna bisyaroh bagi kaum muslimin.

Khilafah ala minhajin nubuwah yang kedua juga merupakan bisyaroh. Dengannya kaum muslimin semangat berjuang walau menghadapi ujian yang bertubi tubi. Namun keyakinan akan tegaknya kembali Khilafah merupakan suatu yang sudah dijanjikan.

Bagi kaum muslimin pada hakekatnya Konstantinopel takluk ditangan kaum muslimin ketika Rosulullah menyampaikan bisyaroh pebaklukannya. Pun begitu dengan Yaman, Persia, dan Roma. Pada hakikatnya sudah takluk ditangan kaum muslimin ketika Rosulullah menyampaikan berita tersebut. Hanya masalah waktu jika hari ini Roma belum ditaklukkan kaum muslimin.

Hal yang sama dengan Khilafah ala mingajin nubuwah. Pada hakikatnya bahwa Khilafah akan kembali tegak di muka bumi adalag ketika bisyaroh tegaknya Khilafah terucap dari lisan Rosulullah yang mulia. Lantas bagaimana mungkin Khilafah kemudian dikatakan basi oleh Said Aqil Shiraj? Bagaimana mungkin sesuatu yang pasti akan terjadi dikemudian hari dianggap suatu yang basi? Bener bener aneh !! []

*Penulis adalah Guru dan Praktisi Multimedia