Connect with us

Pendidikan

Menjadi Remaja Milenial Ideal

Oleh: Septy Wulandari (Remaja Peduli Umat)

 

Ketika mendengar kata milenial biasanya identik dengan yang namanya teknologi. Remaja sekarang adalah remaja milenial yang kehidupannya tak lepas dari teknologi. Mulai dari handpone, laptop, internet, game online dan masih banyak lagi. Dari semua fasilitas itu bisa memengaruhi pemikiran dan tingkah laku remaja karena berdasarkan informasi yang ia dapat dari teknologi.

Remaja adalah aset bagi peradaban Islam. Karena masa remaja itu masa di mana ia memiliki banyak sekali energi, ibarat baterai masih full. Tapi dengan fullnya energi itu jika tidak diarahkan kepada hal yang baik, bisa jadi malah disalurkan kepada hal yang sia-sia. Maka remaja seharusnya diarahkan pada aturan Islam secara kaffah. Karena jika tidak, maka akan terjadi kerusakan dengan adanya paham liberalisme yang membebaskan para remaja untuk bertindak seenaknya.

Hal tersebut dapat kita lihat saat ini, remaja disuguhkan dengan sistem kapitalisme yang menjerumuskan pada paham sekular (memisahkan agama dari kehidupan). Itulah yang dapat menghancurkan masa depan Islam. Seakan gelar agent of change menjadi angin lalu karena telah tergantikan oleh pemahaman lain yang merusak pemikiran dan tingkah laku remaja.

Remaja milenial seharusnya dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi saat ini untuk hal kebaikan. Jangan sampai mudah terbawa arus zaman dengan teknologi yang ada, sehingga menjadikan pemahaman tentang dunia IT lebih banyak daripada pemahaman tentang Islam. Ilmu Islam sangatlah luas, karena Islam mengatur segala aspek kehidupan mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Maka dari itu butuh yang namanya penerapan Islam secara kaffah atau keseluruhan. Karena jika itu diterapkan, maka para remaja milenial yang berada pada naungan Islam kaffah akan menjadikan standar kehidupannya pada halal dan haram. Dan dapat menjadikan hamba yang taat, dekat dengan Al-quran, mengkaji Islam, serta dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Remaja milenial tanpa naungan Islam akan hanyut dalam paham liberal sehingga bebas untuk menyalahgunakan kecanggihan teknologi untuk kemaksiatan, yang pasti dapat menghancurkan pemikiran dan moral. Karena kebebasan itu, remaja bisa mengakses berbagai macam informasi, mulai dari kekerasan, hingga pelecehan seksual (pornografi). Naudzubillahi min dzalik.

Kemudian kebebasan itu membuat para remaja memandang Islam hanyalah sebuah atribut yang digunakan untuk memenuhi identitas diri dalam surat-menyurat, dan Islam dipandang tidak bisa memberi solusi yang berujung ketika menyelesaikan berbagai masalah, baik itu masalah individu, masyarakat ataupun negara. Islam seakan terpinggirkan hanya dianggap sebagai kebutuhan rohani untuk beribadah.

Remaja milenial seharusnya menjadi remaja yang cerdas, aktif, peduli dengan segala problematika umat, dan dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk menebar kebaikan dan pemahaman tentang Islam secara kaffah. Sebagai remaja Islam haruslah sadar bahwa remaja menjadi target dari para pembenci Islam untuk mengilangkan identitas keislamannya dari dalam diri. Teknologi sebagai salah satu alat propaganda kaum kafir untuk menyesatkan pemikiran, agar terbuai dalam kenikmatan duniawi. Entah itu dari pemahaman liberal, kapitalis ataupun sekuler yang dapat merusak masa depan Islam.

Maka dari itu sebagai remaja milenial sekaligus agent of change harus dapat menerapkan dan menyebarkan Islam secara kaffah. Dan tidak menjadikan ajaran Islam sebagai prasmanan yang aturannya bisa diambil sesukanya tanpa diterapkan seluruhnya. Mari menjadi remaja Muslim milenial yang dirindukan umat dalam kontribusinya menegakkan Islam di muka bumi.

Wallahu a’lam

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 + 4 =