Connect with us

Sebagaimana diketahui, sejarah manusia tidak pernah kosong dari pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Para penyeru kebaikan senantiasa mendapat tantangan dan halangan dari para penyeru kebatilan serta dari orang-orang yang suka berbuat kerusakan dan bersikap pragmatis-hidup sekadar mencari kemanfaatan duniawi dan hawa nafsu semata. Demikian yang dialami oleh seluruh nabi sekaligus menjadi sunnatullah bagi dakwah mereka.

Sejak permulaan bergulirnya dakwah Islam, Rasulullah saw. sudah mendapat tantangan yang demikian keras dari masyarakat Quraisy. Mereka senantiasa memerangi dakwah beliau dan para sahabatnya.

Berbagai penganiayaan ditimpakan kepada Rasul dan para sahabat. Keluarga Yasir disiksa dengan siksaan yang sangat pedih. Abu Bakar pernah dipukuli akibat seruan dakwahnya di hadapan orang banyak di samping Ka’bah hingga wajahnya babak-belur. (Sîrah al-Halabiyah, I/475). Rasulullah sendiri pernah disiram dengan kotoran binatang, diludahi, dan diperlakukan dengan perlakuan buruk lainnya. Berbagai jenis perlakuan buruk dan siksaan ditimpakan atas kaum Muslim. Semua itu mereka alami hanya karena mereka menyerukan Islam. Akan tetapi, semua bentuk penyiksaan dan penganiayaan itu tidak membuat kaum Muslim goyah dan terpalingkan dari keimanan dan dakwah mereka.

Penyiksaan dan penganiayaan itu ternyata tidak berhasil. Karena itu, orang-orang kafir Quraisy menjelek-jelekkan Rasulullah dan apa saja yang diucapkannya. Mereka menuduh ucapan dan kegiatan dakwah Rasul sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Mereka melakukan propaganda dan penyesatan opini tentang Rasul dan dakwahnya. Bahkan, sekelompok orang kafir Quraisy pernah berkumpul di rumah Walid bin Mughirah untuk membahas julukan apa yang pantas mereka sematkan bagi Rasulullah dan diopinikan kepada bangsa Arab. Ada yang mengusulkan agar Muhammad dicap sebagai seorang dukun meskipun kemudian ditolak karena Muhammad tidak menampakkan diri seperti seorang dukun. Ada yang mengusulkan agar Muhammad dicap sebagai orang gila. Akan tetapi, tuduhan ini pun ditolak karena sangat jauh dari realitanya. Ada yang mengusulkan untuk mencap Muhammad sebagai tukang sihir. Tuduhan ini juga ditolak karena tidak pernah Muhammad berperilaku seperti tukang sihir. Namun demikian, pada akhirnya, mereka sepakat untuk menjuluki Muhammad sebagai tukang sihir yang ungkapannya dapat menarik perhatian orang banyak. Setelah itu, mereka menyebar ke kalangan jamaah haji dan menyebarkan opini sesat yang telah mereka sepakati agar jamaah haji tidak mau mendengarkan seruan Rasulullah. Namun demikian, semua upaya jahat mereka itu gagal sama sekali.

Setelah semuanya gagal, mereka lantas memboikot Nabi saw. dan kaum Muslim serta Bani Hasyim. Akibatnya, kaum Muslim benar-benar merasakan penderitaan yang luar biasa akibat kelaparan yang merajalela dan wabah penyakit yang menyebar di permukiman mereka. Pemboikotan itu berlangsung selama tiga tahun. Akan tetapi, semua itu pun tetap tidak berpengaruh kepada kaum Muslim, bahkan membuat keimanan dan dakwah mereka semakin bertambah kuat. Semua itu dilakukan untuk memalingkan kaum Muslim dari agama mereka. Inilah yang dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya:

Orang-orang kafir tidak pernah berhenti memerangi kalian hingga mereka mengembalikan kalian dari agama kalian (pada kekafiran) seandainya mereka mampu. (QS al-Baqarah [2]: 217).

Inilah karakter orang-orang kafir sejak dulu hingga sekarang dan bahkan sampai kapanpun. Saat ini, misalnya, orang-orang kafir Barat berupaya melakukan propaganda negatif terhadap Islam dan kaum Muslim, khususnya para pengemban dakwah. Mereka membuat berbagai pertemuan untuk membahas sebutan yang pantas bagi Muslim yang berpegang teguh dengan agamanya; mulai dari gelar ekstremis, fundamentalis, hingga teroris. Mereka-melalui para agennya-menangkapi, memenjarakan, dan menyiksa kaum Muslim dan para pengemban dakwah yang konsisten memperjuangan tegaknya Islam seperti yang terjadi di Mesir, Arab Saudi, Uzbekistan, dll. Mereka melakukan boikot/embargo seperti terhadap kaum Muslim di Irak. Mereka membombandir Afganistan hingga ribuan kaum Muslim terbunuh. Mereka pun membiarkan dan bahkan mendukung pembantaian kaum Muslim di berbagai negeri Islam seperti di Palestina, Filipina, Kashmir, dsb; jauh melebihi korban Peledakan WTC yang diduga didalangi oleh Amerika sendiri. Semua itu mereka lakukan dalam rangka memalingkan kaum Muslim dari agama mereka; sama persis dengan aktivitas kaum kafir Quraisy terhadap Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya sekitar 14 abad yang lalu.

Sikap Kaum Muslimin
Kaum Muslim telah memiliki modal yang luar biasa untuk menghadapi semua tantangan dan halangan dakwah Islam, yaitu modal keimanan. Mereka mengimani tujuan keberadaan mereka di dunia yaitu untuk beribadah kepada Allah. Beriman kepada Allah berarti membenarkan dengan pasti bahwa tidak ada Zat yang patut disembah, tidak ada pembuat hukum yang layak ditaati, tidak ada yang harus ditakuti, dan tidak ada yang selalu dirindukan keridhaan-Nya selain Allah semata. Ketakutan mereka kepada Allah dan azab-Nya yang sangat pedih mengalahkan ketakutan dan kekhawatiran mereka kepada manusia dan siksaan mereka. Kenikmatan yang akan mereka peroleh kelak di akhirat lebih mereka cintai dan mereka harapkan daripada secuil kenikmatan yang hendak diberikan oleh para pembesar kekufuran.

Kaum Muslim harus tetap melaksanakan dakwah sebagaimana Rasulullah dan para sahabatnya meskipun mereka banyak menghadapi berbagai rintangan, ancaman, dan bahkan penyiksaan dalam berdakwah. Mereka terus melakukan dakwah tanpa terjebak untuk melakukan kekerasan, karena Rasulullah melarang untuk melakukannya. Meskipun Rasul dan para sahabat mengalami penderitaan yang luar biasa, mereka hanya diharuskan oleh Allah untuk bersabar dan tetap berpegang teguh pada syariat-Nya. Diriwayatkan bahwa akibat penderitaan yang luar biasa yang dialami oleh mereka akibat berbagai macam siksaan dan penganiayaan orang-orang kafir, mereka sampai bertanya-tanya; kapan pertolongan Allah akan datang? Karena itu, Allah SWT menurunkan firman-Nya:

Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang atas kalian cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan (dengan berbagai macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS al-Baqarah [2]: 214).

Di antara tantangan yang dihadapi oleh kaum Muslim adalah adanya berbagai propaganda dan penyesatan opini yang dilakukan oleh kaum kafir dan antek-antek mereka; juga berbagai fitnah, cap buruk, dan sebutan jahat lainnya yang dipaksakan kepada kaum Muslim. Dalam menghadapi berbagai informasi yang menyesatkan itu kaum Muslim haruslah berpegang teguh pada tatacara penerimaan berita yang telah ditunjukkan oelh Allah. Allah SWT berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik dengan membawa berita, maka periksalah berita itu dengan teliti agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatanmu itu. (QS al-Hujurat [49]: 6).

Berkaitan dengan ayat di atas, kita memahami bahwa terhadap berita/informasi yang dibawa oleh orang Muslim yang fasik-yaitu yang melakukan dosa besar secara terang-terangan atau yang melakukan dosa kecil secara terus menerus-saja kita diharuskan melakukan klarifikasi (tabayyun). Apalagi jika berita itu datang dari orang kafir yang memusuhi kita, yang jelas-jelas memiliki itikad dan maksud jahat untuk menghancurkan kita. Karena itu, terhadap berita yang datang dari orang-orang kafir musuh Islam dan kaum Muslim, klarifikasi (tabayyun) pun sebetulnya tidak relevan. Sebab, yang mesti dilakukan adalah melakukan counter opini karena saat ini yang terjadi sebetulnya adalah perang opini, bukan semata-mata kekeliruan informasi/berita. Artinya, yang harus kita lakukan bukanlah sikap defensif (membela diri), tetapi justru bersikap ofensif, yakni balik melakukan serangan opini dan propaganda yang seimbang. Dengan sikap seperti ini, kita tidak akan terjebak oleh propaganda musuh (orang kafir) yang sengaja diciptakan untuk menyudutkan Islam dan kaum Muslim.

Tantangan yang lainnya antara lain adalah adanya upaya kaum kafir untuk menakut-nakuti kaum Muslim. Kekuatan mereka tampak seolah-olah mengepung kaum Muslim sehingga sebagian kaum Muslim ada yang berpikir bahwa mereka tidak mungkin bisa melawan kekuatan orang-orang kafir. Padahal, dalam menghadapi semua itu, kaum Muslim selayaknya meneladani Rasul dan para sahabat tatkala ada orang yang memberitakan kepada mereka bahwa manusia telah berkumpul dan siap menghancurkan mereka. Saat itu, Rasul dan para sahabat justru mengatakan, “Cukuplah Allah Penolong kami. Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” Demikianlah sebagaimana yang dinyatakan dalam firman-Nya:

Orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul-Nya) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia (yakni Abu Sufyan dan orang Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian. Karena itu, takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS Ali ‘Imran [3]: 173).

Khatimah
Wahai kaum Muslim, kita tengah menghadapi tantangan dari musuh-musuh Islam dan musuh-musuh kita. Kita harus mengenali siapa yang menjadi lawan dan siapa yang menjadi kawan. Sangat jelas bahwa musuh kita saat ini adalah AS, gembong kekufuran, dan konco-konconya. Merekalah yang saat ini membuat berbagai makar untuk menghabisi Islam dan kaum Muslim. Karena itu, kita tidak boleh terjebak dengan skenario global mereka yang bernafsu untuk menghancurkan Islam dan kaum muslim. Karena itu pula, kita harus tetap berjuang, dakwah Islam tidak boleh terhenti, dan upaya penegakkan syariat Islam tidak boleh kandas. Dengan itu, sebentar lagi pertolongan Allah akan segera datang, dan Islam akan menjadi satu-satunya ideologi yang menang dan mengatasi ideologi-ideologi yang lain. Percayalah, karena Allah SWT telah berfirman:

Orang-orang kafir itu berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah, tetapi Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya (agama)-Nya meskipun orang-orang kafir itu membencinya. (QS at-Taubah [9]: 32).

Allahummanshur man nashara addîn wakhdul man qatala al-mu‘minîn. Amin.

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three + nine =