Connect with us

Ekonomi

May Day: Luruskan Niat, Berkah Dunia Akhirat

Oleh: Rakhmat Muharram

اِنَّمَا الأَعْمَلُ بِالنِّيَّاتِ وَ اِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى, …

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang diniatkannya. …

(HR Bukhari-Muslim).

Ada dua istilah ibadah dalam Islam, ibadah mahdah dan ibadah ghairu mahdah

Ibadah mahdhah antara lain seperti sholat, puasa, zakat, dan haji.

Sedangkan ibadah ghairu mahdhah adalah segala amalan yang diizinkan oleh Allah SWT, yang dilandaskan dengan niat untuk mendapatkan madiah dan mencari ridha serta pahala dari Allah SWT, contohnya bekerja atau buruh dan aktifitas sosial lainnya atau dikenal dengan muamalah.

Dari kedua istilah tersebut terdapat nilai ibadah yang sama pentingnya, yakni ibadah mahdhah (ritual) dan ibadah ghairu mahdhah (muamalah)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda,
”Barang siapa bangun di waktu pagi dan berniat menolong orang yang teraniaya dan memenuhi keperluan orang Islam, maka baginya ganjaran seperti haji mabrur.”
(HR Ibnu Hajar Al Asqalani).

Suatu hari Ibnu Abbas RA sedang itikaf di Masjid Rasulullah SAW. Kemudian masuk seorang laki-laki dan menghampirinya. Ibnu Abbas bertanya, ”Hai Fulan, aku melihat kamu murung sekali. Apa yang terjadi padamu?” Orang itu menjawab, ”Benar, wahai putra paman Rasulullah. Saya mempunyai kewajiban kepada seseorang yang harus saya penuhi (mungkin utang), tetapi demi Allah, saya belum sanggup memenuhinya.”

Ibnu Abbas menawarkan pertolongan, ”Bolehkah saya menemui orang yang dimaksud untuk menyelesaikan urusanmu dengannya?” Dia menjawab, ”Silakan jika Anda berkenan. Tetapi, apakah karena ingin menolong saya lantas Anda hendak meninggalkan itikaf?”

Seketika itu Ibnu Abbas berlinang air mata, lalu berkata, ”Masih terngiang di telingaku, penghuni kubur ini (yakni Rasulullah yang dimakamkan di sisi Masjid Nabawi) bersabda, ‘Barangsiapa berjalan memenuhi keperluan saudaranya dan menyampaikan keinginannya, maka itu lebih besar (pahalanya) daripada itikaf di masjid selama 10 tahun, sedangkan orang yang itikaf satu hari untuk mencari keridhaan Allah, maka Allah akan jadikan penghalang antara ia dan neraka tiga parit yang jauhnya lebih dari dua ufuk Timur dan Barat’.”
(HR Al Baihaqi).

Disaat sebagian ummat Islam khusu itikaf di Masjid, ada sebagian ummat Islam lainnya yg tetap terjaga dan stanby didepan monitor yang mengontrol turbin dan power house agar listrik tetap mengalir ke Masjid Masjid yang dipenuhi jamaah itikaf, ada juga yg sedang mengolah makanan untuk berbuka dan shahur.

Islam sangat menghargai orang yang bekerja. Baik yang berkaitan dengan upaya mencari penghidupan maupun yang berhubungan dengan peran sosial seseorang di tengah masyarakat.

Rasulullah SAW menempatkan bekerja mencari nafkah sebagai amal yang dapat menghapus dosa.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir ra, Rasulullah SAW menegaskan, “Sesungguhnya di antara dosa itu ada dosa yang tidak dapat dihapus oleh sholat, puasa, haji, dan umroh, tetapi dapat terhapus oleh lelahnya seseorang dalam mencari nafkah.”

Dalam hadits yang lain, beliau juga menegaskan seseorang yang membawa tali dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar, kemudian memikul ke pasar, lalu menjualnya adalah lebih baik daripada ia harus meminta-minta.
(HR Bukhari-Muslim).

Dari dua hadits di atas, kita dapat memahami betapa Islam sangat menghargai seseorang yang mau bekerja, mau bersusah payah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sehingga, pekerjaan apa pun, selama tidak melanggar syariat Islam, yang dikerjakan dengan bersungguh-sungguh dan penuh keikhlasan, dinilai sebagai ibadah di sisi Allah SWT.

Dalam sejarah kita melihat bagaimana hebatnya prestasi kerja para sahabat Rasulullah. Di antara mereka ada yang berdagang, bertani, dan menjalani berbagai pekerjaan halal lainnya. Mereka melakukan pekerjaan itu dengan penuh dedikasi dan semangat tinggi, di sela-sela perjuangan mereka menegakkan agama Islam.

Tidak heran jika kemudian mereka terkenal sebagai generasi yang di siang hari bagai singa, tetapi di malam hari mereka laksana rahib-rahib. Mereka adalah generasi yang mampu memadukan kesungguhan dalam bekerja dan kesungguhan dalam beribadah kepada Allah SWT.

Tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk berleha-leha, bermalas-malasan, atau bahkan tidak mau bekerja. Atau, mengeluh karena banyaknya pekerjaan yang dilakukan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَا لْمُؤْمِنُوْنَ ۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَا لشَّهَا دَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
“Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.””
(QS. At-Taubah 9: Ayat 105)

Pekerjaan yang dilakukan seseorang, di samping merupakan kewajiban hidup yang harus dijalankan, juga merupakan bukti eksistensinya di tengah-tengah kehidupan sosial. Dengan pekerjaan itu seseorang akan dinilai oleh masyarakatnya.

Tidak ada kata berhenti untuk bekerja. Yang ada mungkin jenis dan intensitasnya yang berbeda.

Allah SWT mengingatkan kita akan hal ini:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَاِ ذَا فَرَغْتَ فَا نْصَبْ
“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),”
(QS. Al-Insyirah 94: Ayat 7)

Jadi, tidak ada kata pensiun untuk ibadah dan bekerja selama hayat dikandung badan

Wallahu a’lam.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − fourteen =