Connect with us

Majelis Taqorrub

Merindukan Ulama Pengayom Umat

Keberadaan para ulama sejatinya merupakan salah satu nikmat Allah yang diberikan kepada penduduk bumi. Mereka adalah cahaya yang menyinari kegelapan, pembawa petunjuk, dan hujjah Allah di muka bumi. Karena merekalah, akidah dan pemikiran sesat dapat disingkirkan serta keragu-raguan dalam kalbu dan jiwa dapat dienyahkan. Mereka sejatinya adalah pilar penyangga keimanan umat sekaligus penjaga umat. Kata Nabi saw., mereka adalah tak ubahnya bintang-bintang di langit yang dapat dijadikan petunjuk dalam kegelapan, baik oleh orang-orang yang berada di daratan ataupun di atas lautan:

Perumpamaan para ulama di bumi adalah seperti bintang-bintang di langit yang bisa dijadikan petunjuk dalam kegelapan di daratan maupun di lautan. (HR Ahmad).

Ulama, sebagaimana kata Nabi saw., sejatinya juga adalah pewaris para nabi sekaligus pembawa bendera syariat Islam yang hakiki. Yang diwarisi oleh ulama dari para nabi tidak lain adalah ilmu (baca: risalah) yang dibawanya, bukan harta kekayaan. Nabi saw. bersabda:

Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, sementara para nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu. (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Semua keutamaan di atas tentu diperuntukkan bagai para ulama yang mengamalkan ilmunya; yang senantiasa menegakkan kebenaran; yang selalu mencintai kebaikan; yang gemar melakukan amar makruf nahi mungkar; yang biasa melakukan koreksi/kritik dan nasihat kepada para penguasa; yang senantiasa memperhatikan kepentingan dan kemaslahatan umat; serta yang selalu sabar dalam menanggung berbagai cobaan dan siksaan di jalan dakwah. Benar, semua keutamaan di atas pada dasarnya hanya diperuntukkan bagi para ulama yang senantiasa menjaga kemuliaan Islam dan umatnya sekaligus terbiasa menyeru para penguasa untuk menerapkan syariat Islam dalam kehidupan, dengan lisan yang lurus dan kalbu yang mantap, tanpa ada rasa takut sedikitpun terhadap siapa pun. Karena sikap mereka yang seperti itulah sesungguhnya mereka menyandang predikat sebagai pewaris para nabi. Sebab, tugas dan amal mereka adalah sebagaimana tugas dan amal para nabi, yakni menyampaikan risalah Islam apa adanya kepada umat manusia sekaligus menyeru mereka agar menerapkan risalah itu dalam kehidupan mereka.

Sebagaimana juga para nabi, para ulama adalah orang-orang yang biasa berkata kepada para pelaku kezaliman, “Kalian sungguh telah berbuat zalim,” kepada para pembuat kerusakan di muka bumi, “Kalian sungguh telah berbuat kerusakan,” dan kepada para pelaku kemaksiatan, “Kalian sungguh telah bermaksiat kepada Allah.” Singkatnya, para ulama adalah mereka yang senantiasa melakukan perbaikan serta meluruskan yang bengkok. Semua itu mereka lakukan tanpa rasa takut kepada siapa pun; juga tanpa rasa khawatir terhadap para penguasa yang zalim. Sebab, mereka sangat mempercayai kata-kata Nabi saw. yang mulia, sebagaimana yang dituturkan oleh Husain bin Ali:

Siapa saja yang menyaksikan penguasa zalim—yang melanggar hukum-hukum Allah, mengingkari perjanjian dengan Allah, menyalahi Sunnah Rasulullah saw., serta memperlakukan hamba-hamba Allah dengan buruk dan penuh permusuhan—tetapi dia tidak mengubahnya dengan ucapan ataupun tindakan, maka Allah berhak memasukkannya ke dalam api neraka. (HR ath-Thabari dan Ibn al-Atsir).

Jika kaum Muslim secara umum diperingatkan dengan sabda Nabi saw. di atas, apalagi para ulama sebagai pewaris para nabi. Para ulama juga tidak pernah menyembunyikan hukum-hukum Islam yang ditanyakan kepada mereka, baik dalam masalah-masalah keumatan, masalah-masalah kenegaraan, maupun masalah-masalah yang menyangkut perilaku para penguasa. Sebab, mereka sangat meyakini firman Allah:

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati pula oleh semua(makhluk yang dapat melaknati. (QS al-Baqarah [2]: 159).

Rasulullah saw. juga bersabda:

Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang jahat. (HR an-Nasai).

Itulah para ulama yang layak mendapatkan gelar yang mulia, yakni sebagai pewaris para nabi. Allah sungguh menghendaki hal yang demikian pada diri para pengemban al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya. Rasulullah saw. juga meridhai hal yang demikian sehingga mereka layak menyandang gelar pewaris para nabi yang senantiasa menyampaikan risalah/kebenaran Islam kepada seluruh umat manusia. Wajar jika kita jumpai, bahwa sepanjang sejarah Islam yang agung, para ulama yang shalih senantiasa menjalani seluruh hidupnya semata-mata demi Islam.

Sikap-sikap mereka yang agung ini telah menghiasi lembaran tarikh dan sejarah Islam yang sangat panjang. Dengan sikap para ulama yang demikianlah Islam senantiasa tegak dan kaum Muslim senantiasa meraih kedudukan yang mulia, yang tidak bisa dihinakan begitu saja oleh orang-orang kafir, sebagaimana yang terjadi akhir-akhir ini.

Umat Merindukan Ulama Pengayom Umat
Menengok sikap yang ditunjukkan para ulama yang shalih pada masa lalu, tampaknya umat saat ini pun berharap hal yang sama kepada para ulama. Umat saat ini sesungguhnya merindukan para ulama yang tegas dalam menanggapi upaya-upaya yang memojokkan kaum Muslim oleh orang-orang yang membenci Islam dalam isu/kasus terorisme, misalnya. Umat saat ini sesungguhnya mendambakan para ulama yang berani menasihati dan mengkritik para penguasa yang mengkhianati umat dan menghambakan diri kepada orang-orang Barat kafir. Umat saat ini sesungguhnya mengharapkan para ulama yang lantang menyuarakan penerapan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan sekaligus menentang segala bentuk kemungkaran yang saat ini diakibatkan oleh diterapkannya ideologi kapitalisme-sekular yang kufur di tengah-tengah masyarakat.

Singkatnya, umat saat ini sesungguhnya sangat menghendaki agar para ulama benar-benar menyandang predikat sebagai pewaris para nabi, yang sepanjang hidup mereka senantiasa berusaha mengemban risalah Allah sekaligus membumikan dan menegakkan hukum-hukum-Nya di muka bumi. Sebab, demikian pula sesungguhnya sikap yang ditunjukkan oleh para sahabat, para tabi‘în, para pengikut tabi‘în, dan orang yang datang setelah mereka. Mereka senantiasa mengemban dan menyebarluaskan hidayah kepada umat manusia. Mereka senantiasa berusaha membebaskan umat manusia dari kesewenang-wenangan politik, kezaliman sosial, kerusakan moral, dan keburukan hawa nafsu manusia. Mereka senantiasa berupaya mengeluarkan umat manusia dari penyembahan kepada thâghût untuk menyembah hanya kepada Allah semata; dari kesesatan agama ke keadilan Islam; dan dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan akhirat.

Berkaitan dengan hal di atas, Allah Swt. berfirman:

Mengapa orang-orang alim dan pendeta-pendaeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (QS al-Maidah [5]: 63).

Ayat di atas adalah celaan sekaligus peringatan dari Allah yang ditujukan kepada para ulama Yahudi dan Nasrani karena mereka tidak menegakkan aktivitas amar makruf nahi mungkar. Dalam ayat di atas, yang dicela dari mereka adalah rasa takut mereka untuk menyatakan kebenaran dan melakukan amar makruf nahi mungkar.

Berkaitan dengan ayat ini, al-Qurtubi berkomentar dalam tafsirnya, “Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang berdiam diri dari mencegah perbuatan mungkar adalah seperti orang yang berbuat kemungkaran itu sendiri. Intinya, ayat tersebut memberikan peringatan kepada ulama yang meninggalkan aktivitas amar makruf nahi mungkar.”

Akibat Meninggalkan Amar Makruf Nahi Mungkar
Akibat kaum Muslim—khususnya para ulama—meninggalkan amar makruf nahi mungkar adalah sebagaimana firman Allah:

Peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS al-Anfal [8]: 25).

Selain azab Allah, ditinggalkannya amar makruf juga berakibat pada tidak diterimanya doa. Hudzhaifah bin al-Yaman r.a., menuturkan bahwa Rasul saw. bersabda:

Demi dzat yang jiwaku ada dalam genggamannya, kalian melakukan amar makruf dan mencegah kemungkaran atau Allah akan menimpakan azab atas kalian, kemudian kalian berdoa kepada-Nya, lalu doa kalian tidak akan dikabulkan. (HR at-Tirmidzi).

Patut kita catat, Kemungkaran yang paling besar dan paling buruk tentu saja adalah ketika manusia mencampakkan syariat Allah dari realitas kehidupan mereka, sebagaimana yang terjadi saat ini. Dalam keadaan seperti sekarang ini, kaum Muslim, khususnya para ulama yang membisu dan tidak memungkirinya, tentu akan mendapatkan azab Allah.

Khatimah
Dengan demikian, para ulama pada dasarnya bukanlah sekadar orang yang banyak ilmunya, tetapi orang yang betul-betul menjalankan fungsinya sebagai pewaris para nabi. Mereka tidak akan berdiam diri, semata-mata didasarkan pada rasa takutnya kepada Allah, ketika di hadapannya kemungkaran merajalela di mana-mana. Para ulama itu akan segera tampil ke depan menyeru kepada para penguasa agar menghilangkan kemungkaran itu dengan wewenang mereka. Para ulama itu pun segera tampil ke depan publik menjelaskan kepada umat tentang bahaya kemungkaran itu agar umat mencegah dan mengkirainya berdasarkan pengetahuan dan pemahaman yang diperoleh dari para ulama itu. Sehingga penguasa dan umat pun selamat dari bahaya kemungkaran itu. Ya, ulama seperti inilah yang kita rindukan!

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 + 19 =