Connect with us

Galeri Foto

Perempuan Pembawa Berkah

Oleh: Ruruh Anjar

JUWAIRIYAH BINTI AL HARITS: PEREMPUAN PEMBAWA BERKAH

Juwairiyah r.a. lahir sekitar 14 tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Ia adalah putri dari kepala suku bani Mushthaliq, Al Harits bin Abu Dhirar, yang paling disegani oleh semua anggotanya. Juwairiyah tumbuh sebagai perempuan yang cantik dan berbudi baik di dalam asuhan keluarganya.

Setelah tegaknya Daulah Islam di Madinah, Rasulullah memberi perhatian terhadap kabilah-kabilah Arab yang tinggal di sekitar Kota Madinah agar memeluk Islam. Ini dilakukan sebagai wujud dari perintah Allah untuk menyebarkan Islam ke seluruh alam raya untuk menaati Allah semata. Kemenangan demi kemenangan terus berpihak kepada kaum muslimin sehingga menggelisahkan bani Mushthaliq.

Para pemimpin dan tokoh bani Mushthaliq yang sombong terhadap kebenaran, berkampanye kepada sisa-sisa suku Arab dan keluarga besar mereka untuk menyusun persekongkolan dan membuat kesepakatan dalam menghalang dakwah Islam.

Hingga akhirnya pada bulan Sya’ban tahun 6 H terjadi Perang Bani Mushthaliq. Perang ini dipicu oleh kesiapan pemimpin suku bani Mushthaliq, Al Harits bin Abu Dhirar, bersama suku-suku Arab lainnya. Rasulullah yang menerima informasi tersebut, mengutus Buraidah bin Al-Hashib Al-Aslami untuk mengkonfirmasi kebenarannya.

Ketika Rasulullah yakin maka diberangkatkanlah pasukan sehingga terjadilah perang yang dimenangkan kaum muslimin. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Auun menulis surat kepada Nafi’, untuk bertanya tentang perang Mushthaliq. Dalam jawabannya Nafi’ berkata, “Rasulullah menyerang bani Mushthaliq yang telah siap-siap meyerang Rasulullah sebelumnya. Unta-unta mereka digiring menuju sumber air. Di sanalah Rasulullah menyerang mereka dan berhasil menawan kaum wanita dan anak-anak, termasuk Juwairiyah. Aku mendengar kisah ini dari Ibnu Umar yang ikut dalam perang tersebut.”

Musafi’ bin Shafwan, suami Juwairiyah binti Al-Harits termasuk 10 orang pasukan bani Mushthaliq yang terbunuh sedangkan yang lainnya menjadi tawanan sekitar 700 orang.
Juwairiyah berinisiatif untuk meminta kebebasan dirinya dengan mendatangi Rasulullah. Juwairiyah berkata, “Wahai Rasulullah, aku adalah Juwairiyah binti Al Harits bin Abu Dhirar, pemimpin kabilah bani Mushthaliq. Aku mendapat musibah yang pasti engkau ketahui dengan baik. Aku menjadi bagian Tsabit bin Qais bin Syammas (atau sepupunya), maka aku membuat kesepakatan mukaatabah (pengajuan pembebasan diri (agar menjadi merdeka) yang dilakukan oleh seorang budak kepada tuannya dengan membayar sejumlah uang sesuai kesepakatan) dengannya agar aku menjadi seorang yang merdeka. Tujuanku menemuimu adalah untuk meminta bantuan menyelesaikan perihal mukaatabah ini.” Rasulullah berkata, “Apakah engkau suka mendapatkan yang lebih baik dari itu?” Juwairah balik bertanya keheranan, “Apa itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah berkata, “Aku melunasi mukaatabah-mu lalu aku menikahimu.” Juwairiyah menjawab, “Aku setuju wahai Rasulullah.” Rasulullah berkata, “Kalau begitu, aku siap melunasinya.”

Aisyah r.a. berkata, “Saat itu juga tersebarlah berita bahwa Rasulullah menikahi Juwairiyah. Mendengar berita tersebut, para sahabat berkata (tentang budak-budak mereka yang berasal dari bani Mushthaliq), ‘Mereka adalah besan-besan Rasulullah’ sehingga mereka langsung melepaskannya (memerdekakannya). Dengan menikahi Juwairiyah maka Rasulullah berhasil memerdekakan 100 keluarga dari suku bani Mushthaliq. Aku tidak pernah tahu ada perempuan yang lebih banyak memberi berkah kepada kaumnya daripada Juwairiyah.”

Menikah dengan Rasulullah dan memeluk Islam menjadikan Juwairiyah merasakan kehidupan yang memberikan kebahagiaan dunia akhirat secara hakiki. Ia sangat teguh menjalankan perintah Allah, tekun beribadah, rajin berpuasa dan sholat malam. Ia tidak pernah merasa lelah berdzikir kepada Allah.

Setiap kali Rasulullah bertemu dengan Juwairiyah, Rasulullah selalu memberinya pelajaran baru agar meningkatkan ilmu, keimanan, dan keteguhan dalam menjalankan kebenaran. Juwairiyah menceritakan bahwa Rasulullah pernah menemuinya pada hari Jumat. Saat itu ia sedang berpuasa. Rasulullah bertanya, “Apakah kemarin engkau berpuasa juga?” Juwairiyah menjawab, “Tidak.” Rasulullah berkata , “Apakah engkau akan berpuasa besok?” Juwairiyah menjawab, “Tidak.” Rasulullah berkata, “Kalau begitu batalkan puasamu hari ini (Jumat)” (H.R. Bukhari).

Dalam riwayat lain, Juwairiyah menuturkan, “Pada suatu pagi, Rasulullah masuk ke rumahku. Beliau mendapatiku sedang bertasbih, maka beliau langsung pergi ke tempat lain untuk suatu keperluan, kemudian kembali lagi menemuiku hampir tengah hari. Rasulullah bertanya, “Apakah engkau masih duduk (bertasbih)?” Aku menjawab, “Ya.” Beliau berkata, “Maukah engkau aku ajarkan beberapa kalimat yang jika engkau ucapkan maka setara dengan seluruh tasbih yang engkau lakukan (atau jika ditimbang sama dengan seluruh tasbih yang engkau lakukan)?, ucapkanlah, “Subhanallah ‘adada khalqih sebanyak 33 kali, subhanallah zinata ‘arsyih sebanyak 33 kali, subhanallah ridhaa nafsih sebanyak 33 kali, dan subhaanallah midaada kalimaatih sebanyak 33 kali.”

Sepeninggal Rasulullah, Juwairiyah merasakan kesedihan dan kehilangan yang sangat dalam namun ia tetap menguatkan dirinya dan menyerahkan semua urusannya kepada Allah agar meraih ridha-Nya.

Juwairiyah menghabiskan waktunya dengan ilmu dan ketaatan kepada Allah. Ia pun mengajarkan ilmu kepada para penuntut ilmu yang datang ke Madinah. Juwairiyah hidup hingga masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Usianya saat itu mencapai 70 tahun. Pada tahun 50 H, Ummul Mukminin Juwairiyah wafat. Shalat jenazah dipimpin oleh Marwan bin Hakam, Gubernur Madinah. Kemudian diantarkan oleh segenap kaum muslimin untuk dikuburkan di pemakaman Baqi’ di samping istri-istri Rasulullah lainnya dan putri-putri beliau.

Dari sini dapat dilihat bahwa pernikahan Rasulullah dengan Juwairiyah memiliki tujuan semakin menguatkan dakwah Islam di berbagai suku Arab. Bahkan Islam telah menjadikan Juwairiyah sebagai seorang muslimah sejati. Menjadi pembelajar dan mengajarkan ilmu yang dimilikinya untuk kebaikan. Menyebarkan cahaya Islam semata-mata dalam rangka ketaatan kepada Allah.

Wallahua’lam bishshowwab.[]

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × four =