Connect with us

Pendidikan

Industri Game Perusak Generasi

Rezkiana Rahmayanti

Sistem sekuler produksi industri game sebagai sumber pendapatan yang merusak generasi!!

Negara sekuler jelas mengutamakan standar kebahagiaan pada materi.

Apapun yang menghasilkan uang, maka matanya menjadi “ijo” dan tangannya “gatal” untuk di olah. Tak terkecuali dengan dunia “game”.

Joddy Hernady selaku EVP Digital & Next Business Telkom, menyatakan : “Gaming itu pendapatannya bisa tujuh kali lipat dari pendapatan sebuah film,”.
Pertumbuhan industri game di Indonesia itu mencapai angka 40%. http://marketeers.com/telkom-serius-garap-industri-game-dalam-negeri/

Badan Ekonomi Kreatif mencatat nilai industri game pada 2015 mencapai US$321 juta atau Rp4,78 triliun, di 2016 sebesar US$704 juta atau Rp10,49 triliun, kemudian pada 2017 sebesar US$882 juta atau RP13,5 triliun.
Nilainya terus bertambah setiap tahun. Wajar bila janji menguntungkan inilah yang membuat “air liur para kapitalis” semakin menjulur.

Tanpa peduli apa dampaknya bagi anaknya maupun generasi selanjutnya…
Yang penting menghasillan “duit, uang, rupiah, dolar”. Kalau bisa pundi2 nya terus diisi untuk sampai tujuh keturunan.

Siapapun yang peduli dengan generasi, perkembangan permainan “game (online dan mobile)” jelas-jelas mengerikan karena telah memakan korban.
Bukan hanya merusak fisik, mental bahkan akal.
Generasi yang candu game, mengalami kesulitan berpikir secara fokus, emosional, serba cepat tanpa mau usaha, mudah menyalahkan lingkungan, asosial, dan lain-lain. https://amp.kompas.com/sains/read/2018/06/19/192900123/who-resmi-tetapkan-kecanduan-game-sebagai-gangguan-mental

Beberapa negara yang sudah merasakan dampaknya telah mengambil langkah untuk melarang, karena mereka tidak mau negaranya hancur karena generasinya rusak. Bagaimana generasi ini mengurus negaranya di masa datang?, bila mereka sendiri sudah rusak!.
https://m.bisnis.com/lifestyle/read/20190412/220/910981/dianggap-adiktif-nepal-resmi-larang-pubg

Negara sekuler tidak bertanggung jawab kepada rakyat apalagi generasinya. Orientasi mereka mengelola negara hanya meraih “kapital, kapital, kapital”.
Bahkan sang pemimpin dengan bangganya memfasilitasi “lomba” main game dengan hadiah yang menggiurkan…
Dimana tanggung jawab melindungi generasi?? Yang ada GENERASI RUSAK!!

Sangat berbeda dengan Sistem Islam yang memiliki tata aturan kehidupan yang berasal dari langit.
Sistem ini diberikan Allah Swt melalui Rasulullah Saw untuk menghantarkan “rahmatan lil alamin”.

Generasi yang hidup dalam sistem ini akan mendapatkan pengurusan yang komprehensif untuk menjadi generasi yang beriman, sehat, kuat dan mampu membangun peradaban yang mandiri dan unggul.

Sistem Islam jelas tidak akan menyibukkan diri dalam mencari pendapatan melalui yang haram (mengandung riba), memalak rakyat berupa pajak, dan yang merusak.

Sistem Islam memiliki sumber pendapatan yang halal dari pengelolaan SDA yang berlimpah karena dikelola secara mandiri oleh SDM2 yang unggul dan lahir dari Pendidikan Tinggi yang berkualitas.

Sistem ini akan menjalankan sistem perekonomian yang halal dan berkah. Sehingga mampu memberikan layanan publik bagi seluruh rakyat tanpa kecuali berupa jaminan pemenuhan kebutuhan pokok melalui jaminan nafkah yaitu ketersediaan lapangan pekerjaan bagi para laki-laki (suami dan wali), jalur kerabat dan shodaqoh_zakat.
Sistem ini tidak akan membebani para wali dan suami untuk membiayai pendidikan, kesehatan dan keamanan bagi anggota keluarganya, karena negara secara langsung membiayainya.

Sistem Islam juga menyediakan pendidikan yang mampu membentuk generasi yang memiliki kepribadian yang matang dengan landasan azas Islam. Sehingga tidak perlu ada program “revolusi mental”, karena sistem pendidikannya diselenggarakan secata utuh dan komprehensif. Mulai dari kurikulum yang mampu melahirkan tujuan pendidikan, tersedianya sdm berupa guru yang berkualitas dengan tunjangan gaji yang lebih dari cukup sehingga bisa fokus mendidik siswanya secara optimal. Ditambah lagi ketersedian infrastruktur dan sarana pendidikan yang memudahkan bukan yang merusak.

Sistem ini juga melindungi generasi dari media yang merusak, baik secara konten maupun alat2nya.
Sistem ini merubah mindset rakyatnya u produktif menjalani aktivitas dalam makna positif, tidak bebas tanpa batas.
Bagi kaum muslimin senantiasa tertanam kuat makna hakekat hidup adalah beribadah, dan akan dimintai pertanggungjawaban di yaumil akhir.
Sehingga tidak ada dalam sistem ini, rakyatnya menjalani kehidupan dengan “hura-hura”, yang menghambur2kan waktu, tenaga dan dana secara sia-sia apalagi yang menjurus pada perkara maksiat yg dimurkai Allah Swt.
Makna istirahat tidak pernah lepas dengan nilai ibadah, karena hidup di dunia bukanlah mesin uang namun untuk menabung “amal baik” menuju kampung akhirat yang kekal .
Maka bisa dipastikan, tidak akan subur permainan game yang merusak apalagi dijadikan “ajang mata pencaharian”.
Saatnya umat kembali kepada sistem yang mampu melindungi generasi dari kerusakan. Itu hanya ada dalam Islam dan menjadikannya nyata dalam Sistem kehidupan di dunia yaitu Khilafah Islamiyah minhajjin nubuwwah.