Connect with us

 

Hidup manusia senantiasa akan dihadapkan pada dua pilihan, di antaranya yaitu tujuan dan hambatan. Apabila seseorang memilih untuk fokus pada tujuan maka hambatannya tidak akan dirasakan. Namun, apabila memilih untuk fokus pada hambatan, maka tujuannya tidak akan pernah tercapai. Sebagai seorang Muslim, hendaknya fokus pada tujuan dan siap melewati hambatan yang akan terjadi, bukan sebaliknya.

Tujuan diciptakan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah, sebagaimana firman-Nya,
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (TQS Adz Dzariyat: 56).

Beribadah kepada Allah memerlukan petunjuk, agar apa yang diperbuat sesuai dengan tuntunanNya. Namun, banyak manusia yang hidup tidak sesuai dengan apa yang diturunkan Allah. Padahal, Allah telah menurunkan petunjukNya dengan sempurna.

Banyak manusia yang tersesat karena salah memilih petunjuk dalam menentukan jalan hidup. Dalam Al-quran dijelaskan bahwa Allah telah memberikan dua jalan pada manusia,
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (TQS. Al Balad: 10).

Dalam ayat lain disebutkan juga
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (TQS. Asy Syams: 8).

Dua ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah memberikan dua jalan kepada manusia, yaitu berupa jalan fasik dan takwa. Pengertian fasik dijelaskan dalam Al-quran, Allah berfirman,
“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (TQS. Al Maidah: 47).

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. Sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik. “(TQS. At Taubah: 67).

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (TQS. Al Hashr: 19).

Begitu juga pengertian takwa, Allah berfirman,
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (TQS. Al Baqarah: 177).

Itulah dua jalan yang diberikan Allah kepada manusia. Sebagai Muslim sejati, hendaknya memilih jalan takwa agar kelak dapat menikmati surga seluas langit dan bumi. Bukan menjadi orang fasik, na’udzubillaah!

Sebagaimana firmanNya,
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (TQS. Ali Imran: 33).

Balasan bagi orang fasik adalah neraka, sebagaimana firmanNya,
“Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir) maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya.” (TQS. As Sajdah: 20).

Na’udzubillaah. Mari bersama menjadi pribadi yang bertakwa, memilih jalan hidup sesuai petunjukNya, agar kelak bisa menikmati surgaNya, bukan sebaliknya.

Wallahu a’lam.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one + 17 =