Connect with us

Pendidikan

Kaderisasi Al Fatih Baru

by: Iqri Sulizar

Tahun ini (1441H) peringatan jatuhnya kota konstantinopel 20 Jumadil Awal 857H ke tangan kaum muslimin menjadi pembicaraan netizen di banyak belahan dunia. Terutama di negeri yang dahulu berada dalam kekuasaan langsung Khilafah Ustmaniyah seperti turki, balkan, asia tengah, jazirah arab, mesir, aljazair, maroko, dll . Sebuah kebangkitan kesadaran kolektif penghasil energi persatuan dunia islam.

Adalah Sultan Muhammad al-Fatih yang berusia 21 tahun dan pasukannya menjadi pemimpin dan pasukan terbaik, Memenuhi sabda Rasulullah SAW:
“Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan. Sebaik-baik amir (khalifah) adalah amir (khalifah) yang memimpin penaklukkannya dan sebaik-baik tentara adalah tentara yang menaklukkannya.” (HR Bukhari, Ahmad, dan Al-Hakim).

Membandingkan kemampuan yang dimiliki Muhammad Al-Fatih yang berusia 21 thn dengan sengenap kemampuannya, dengan kemampuan pemuda dan pemudi seusianya di tahun 2020 maka pasti kita akan banyak bertanya akankah ada pemuda sekualitas itu era sekarang ??? Era dimana di banyak kajian adalah era kebangkitan islam jilid 2.

Secara ringkas kemampuan utama Al Fatih (21th) adalah:
1. Kemampuan keimanan yang kokoh. Terutama kokoh menunaikan perintah Allah SWT.
2. Kemampuan kepemimpinan, mampu memimpin negara dengan baik, didukung dan dicintai rakyat.
3. Kemampuan militer (seni diplomasi, taktik dan strategi).
4. Kemampuan menguasai ilmu-ilmu mendasar berupa al-Qur’an, hadis, sunnah nabawiyah dan fikih.
5. Kemampuan bahasa asing Arab, Persia dan Turki.
6. Kemampuan ilmu kehidupan seperti matematika, al-falak (astronomi), dll.

Secara umum lingkungan pendidikan masyarakat pada khilafah ustmaniyah pada saat itu mengarahkan pemuda agar memiliki kemampuan multi talenta dan itu terbukti berhasil.

Di era kekinian pendidikan ala barat mengarahkan manusia memiliki mono kemampuan. Dari sejak bangku sekolah menengah, sampai pendidikan tinggi, semakin tinggi pendidikan makin spesifik. Tidak heran misalnya dikenal ada professor terumbu karang, karena memang fokus belajarnya diseputar terumbu karang saja. Pendidikan ala barat memang memandulkan fakta bahwa manusia bisa memiliki multi kemampuan.

*Hasil Kerja Sistem Islam*

Bercermin dari generasi era Sultan Muhammad Al Fatih, hendaknya aktivis islam sekarang bercermin dari proses yang mereka lewati. Generasi Al Fatih adalah produk sebuah sistem yang sedari awal dibangun oleh generasi awal Ustmaniyah yang cemerlang.

Bermula dari kelompok suku kayi yang berhasil menyelamatkan diri dari keganasan negara Mongol pemimpinnya Sulaiman Syah sudah mengajarkan pentingnya negara, keadilan islam, kesetiaan dan persatuan kepada anak-anaknya dan segenap anggota suku.

Perjalanan panjang mereka membuat suku ini sampai di kesultanan seljuk di asia kecil. Kesultanan islam seljuk itu saat itu membutuhkan banyak tenaga terampil untuk melawan imperium romawi dan serangan Mongol. Pemimpin suku kayi saat itu Ertugrul Bey (Anak Sulaiman Syah) dan tim (Turgut, Bamsi, Dogan, dkk) yang sudah dibekali ide-ide dasar tentang kepemimpinan islam langsung membantu untuk terus menjaga kepemimpinan islam seljuk tetap eksis. Meski disaat-saat krisis kesultanan seljuk, karena banyak intrik kalangan istana untuk menjadi sultan, kelompok ertugrul tetaplah menjadi penjaga setia kesultanan seljuk.

Sampai akhirnya kesultanan seljuk tidak bisa bertahan lagi dan runtuh, barulah suku kayi yang saat itu dipimpin Ustman mewujudkan kesultanan ustmaniyah untuk menjaga keberlangsungan kepemimpinan islam tetap ada, melindungi kaum muslimin dan akhirnya membesar mendakwahkan islam di dunia.

Menilik dari pendidikan ala kelompok kayi ada beberapa dasar pendidikan multitalenta yg didapat masyarkat yang patut menjadi rujukan aktivis kebangkitan islam:
1. Pendidikan islam, kepemimpinan politik, kecintaan terhadap kemanusiaan dan kaum muslimin diajarkan secara kontinyu di mesjid-mesjid oleh para syaikul islam.
2. Pendidikan olah keprajuritan dilakukan oleh semua anak laki-laki sedari kecil.
3. Pendidikan keterampilan hidup disesuaikan dengan minat seseorang.

Merujuk perjuangan masa lalu dari era nabi Muhammad SAW sd Khilafah Ustmaniyah, mereka mencontohkan bahwa perjuangan melanjutkan kehidupan islam itu akan berhasil kalau kaum muslimin berada dalam barisan jamaah yang mempunyai visi ide besar perjuangan terintegrasi dan bergerak bersama kepemimpinan itu.

Akhirnya saya Copas Catatan Harian Sultan Abdul Hamid II sultan terakhir khilafah Ustmaniyah: “Memang waktunya belum datang, tapi dia akan datang. Akan datang suatu hari di mana kaum Muslimin akan bersatu dan mereka akan bersama-sama dalam satu kebangkitan yang serentak. Akan ada seorang yang memimpin umat ini dan mereka akan menghancurkan kekuatan orang-orang kafir, “tulisnya.

Bogor, 19 Januari 2020

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen − sixteen =